Opinion

Audi Joinaldi - Lingkungan Hidup Sumatera Barat

Upaya Melestarikan Lingkungan Hidup Sumatera Barat

Tokoh Milenial Sumbar – Bertepatan dengan memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni 2010, Audy Joinaldy mengajak masyarakat Sumatera Barat pada khususnya untuk menjaga kelestarian alam Sumatera Barat.

Seperti yang sudah kita ketahui, Sumatera Barat terkenal akan keindahan alamnya dan menjadi destinasi wisata tidak hanya oleh wisatawan nusantara namun juga mancanegara, sehingga keseimbangan ekosistem harus dijaga.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Sumatera Barat termasuk daerah yang tingkat kejadian bencana yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan iklim cukup tinggi Dampak dari bencana alam tentu mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Sumatera Barat.

Bencana alam tersebut sering kali disebabkan oleh kerusakan lingkungan seperti konversi hutan menjadi kawasan perladangan, kebun kelapa sawit, dan tambang-tambang ilegal. Masyarakat harus menyadari bahwa kerusakan lingkungan bisa mendatangkan kerugian ekonomi bagi masyarakat itu sendiri, hingga jatuhnya korban jiwa.

Menurut KKI Warsi (Komunitas Konservasi Indonesia), Sumatera Barat memiliki luasan kawasan hutan mencapai 2.342.893 hektare atau 55,39 persen dari luas administrasi Provinsi Sumbar. Namun data tutupan hutan Sumbar pada 2017 berkurang menjadi 1.895.324 hektare, dan terus berkurang pada 2019 menjadi 1.871.972 hektare. Luas tutupan hutan Sumbar saat ini hanya tersisa 44 persen dari wilayah Provinsi Sumbar atau terjadi penurunan seluas 23.352 Ha dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Jadi, saat ini sekitar 44% wilayah Sumatera Barat merupakan kawasan hutan yang didominasi oleh hutan lindung, konservasi, dan produksi. Kawasan hutan tersebut sangat rentan terhadap ekspansi industri berbasis lahan yang dapat mengancam kelangsungan ekosistem, memicu konflik vertikal antara masyarakat dan perusahaan, serta membatasi akses kelola masyarakat yang sangat bergantung terhadap sumber daya alam sebagai sumber penghidupan dan ekonomi. 

Tentu dengan berkurangnya luas tutupan hutan itu menyebabkan semakin tingginya potensi bencana alam seperti banjir, banjir bandang, hingga longsor di Sumatera Barat. Tutupan hutan akan memiliki dampak dan perubahan terhadap lingkungan dan merugikan manusia, di antaranya pada kerusakan ekologi dan hilangnya plasma nutfah, serta berkurangnya cadangan biodiversity krusial.

Untuk mewujudkan kelestarian alam yang kita inginkan, butuh kerjasama yang baik dari seluruh lapisan masyarakat Sumatera Barat. Mulai dari masyarakat, perangkat aparatur negara, sektor pengusaha, hingga pemerintah selaku pembuat kebijakan. 

"Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan kekayaan alam Sumatera Barat ini menjadi salah satu perhatian Audy Joinaldy sebagai tokoh milenial Sumbar untuk menjadi program yang akan diangkat dalam kesempatan Pilgub Sumbar sebagai Calon Wakil Gubernur Sumatera Barat.”

 

Hal sederhana yang bisa dilakukan masyarakat secara pribadi untuk upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan melakukan hal-hal, seperti berikut ini.

1. Bercocok Tanam Dengan Bijak

Bercocok tanam dengan bijak dapat meningkatkan hasil panen. Untuk memberantas hama tanaman, kita dapat menggunakan musuh alami sebagai upaya untuk mengurangi penggunaan pestisida yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Kita juga dapat merotasi tanaman sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem.

2. Menggunakan Produk Dalam Negeri

Menggunakan produk dalam negeri dapat mengurangi jumlah barang-barang impor yang mungkin saja mengandung bahan-bahan berbahaya yang dapat merusak lingkungan. Selain itu, menggunakan produk dalam negeri juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

3. Menjaga Flora Dan Fauna Langka

Dengan menjaga kelestarian hutan dan tidak melakukan perburuan liar, kita sudah turut menjaga flora dan fauna langka. Dengan begitu, keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

4. Menjaga Kelestarian Hutan

Hutan memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan karena menjadi paru-paru dunia yang dapat menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida, daerah resapan air terbesar sehingga dapat mencegah banjir bandang, erosi, dan tanah longsor, serta tempat tinggal aneka flora dan fauna.

Sebagai upaya menjaga kelestarian hutan, kita dapat menanam sejuta pohon, tidak membuka lahan dengan membakar hutan, tidak melakukan penebangan pohon secara liar, dan melaporkan pada pihak berwajib jika mengetahui adanya praktik illegal logging.

5. Melakukan AMDAL

Sebelum membangun sesuatu, seperti gedung atau jalan, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya harus melakukan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Hal ini dilakukan agar pembangunan tersebut tidak merusak kelestarian lingkungan hidup dan mencari solusi atas konsekuensi yang akan dihadapi.

6. Reboisasi

Kondisi hutan saat ini memang sudah sangat memprihatinkan akibat banyaknya penebangan pohon secara liar dan praktik illegal loging. Dengan kondisi yang seperti ini, hutan tidak mampu lagi meresap air sehingga terjadi banjir bandang, erosi, dan tanah longsor. Karena itu, kita harus melakukan reboisasi untuk tetap menjaga kelestariannya.

 

Dengan melakukan keenam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup di masyarakat tersebut, berarti kita turut menjaga keseimbangan ekosistem yang ada.